©

dewidraupadi:

Hari sedang tak terik, tak juga rintik

Namun payung hitam di genggaman tangannya tak henti terkembang

Ia susuri lagi jalanan yang ia lewati di hari kemarin, dan hari-hari sebelumnya

Baginya, hidup adalah tentang pengulangan-pengulangan kejadian, tentang rekaman-rekaman kesalahan, tentang…

I am not looking for someone who will love me forever.
I want someone who loves me day by day, everyday.
‘Cause I don’t have forever, all I have is today, and if I am lucky, tomorrow..
by My Hopeful Heart (via afoolwholearned)

dewidraupadi:

“Sumpah aku mencintaimu, garis bawahi, bukan dengan cinta buta.”

Pernahkah terbesit di pikiranmu bahwa cinta itu rumit?
Seperti barisan integral berpangkat yang tak mampu kau sederhanakan.
Seperti persamaan garis linear dimana tak pernah kau temukan satu titik agar X dan Y bisa bercumbu bebas.

Pernah kuletakkan kau sedekat jantungku. Kupikir agar degup kita seirama. Ternyata aku salah. Kau, sosok yang kupuja, yang paling mampu mengoyaknya.
by Ruth Dian Kurniasari (via dewidraupadi)
Ciuman yang terburu-buru, pelukan yang tak pernah penuh. Hatiku selalu utuh, sedang kamu: separuh.
by Ruth Dian Kurniasari (via dewidraupadi)
dewidraupadi:

द्रौपदी
Aku Draupadi, Puteri Pañcali
Terlahir dari rahim api suci
Legam kulitku seranum dendam
Sepahit rasa sakit kala Dursasana menelanjangi jantungku
Ia terbahak
Tawanya; sengat kalajengking pada terik isakku
Sekali lagi ia tergelak
Bagai ular beludak yang mencumbu tiap sulur nadiku
Undi dilempar, aku dipertaruhkan
Rambutku, permadani surga; dijadikan alas neraka
Pada arena judi akbar, auratku dipertontonkan
Pelupukku menitihkan darah, tangisku tumpah
Hatiku retak, jiwaku berontak
Aku bersumpah, hitam rambutku kan kubasuh dengan merah darah Dursasana!
Kini, pada bentang Bharatawarsha, kuletakkan nyawa
Pada jiwa Pandawa dan Pancakumala, kubaringkan setia
Aku telah menggenapi moksa

dewidraupadi:

द्रौपदी

Aku Draupadi, Puteri Pañcali

Terlahir dari rahim api suci

Legam kulitku seranum dendam

Sepahit rasa sakit kala Dursasana menelanjangi jantungku

Ia terbahak

Tawanya; sengat kalajengking pada terik isakku

Sekali lagi ia tergelak

Bagai ular beludak yang mencumbu tiap sulur nadiku

Undi dilempar, aku dipertaruhkan

Rambutku, permadani surga; dijadikan alas neraka

Pada arena judi akbar, auratku dipertontonkan

Pelupukku menitihkan darah, tangisku tumpah

Hatiku retak, jiwaku berontak

Aku bersumpah, hitam rambutku kan kubasuh dengan merah darah Dursasana!

Kini, pada bentang Bharatawarsha, kuletakkan nyawa

Pada jiwa Pandawa dan Pancakumala, kubaringkan setia

Aku telah menggenapi moksa

Tuhan, tak sakitkah Kau melihatku menangis?
by Ruth Dian Kurniasari (via dewidraupadi)